Senja dalam Parasnya
Senja dalam Parasnya Pintu ruangan itu terbuka perlahan, menimbulkan bunyi lirih yang memantul di dinding-dinding tinggi. Cahaya lampu jatuh lembut di setiap sudut, menerangi puluhan lukisan yang tergantung rapi—warna-warna yang saling berbicara dalam diam. Aku melangkah masuk. Udara di dalamnya berbeda. Lebih tenang. Lebih… penuh. Langkahku menyusuri ruangan, melewati kanvas demi kanvas yang tak lagi asing. Setiap goresan, setiap warna, setiap bayangan—semuanya pernah lahir dari tanganku sendiri. Namun anehnya, melihatnya kembali sekarang terasa seperti membaca ulang bagian-bagian hidup yang pernah kutinggalkan. Jemari tanganku berhenti di tepi sebuah bingkai. Senja . Langitnya hangat, jingga yang perlahan larut ke ungu, seperti hari yang enggan benar-benar selesai. Rumput liar bergoyang pelan, bunga-bunga kecil bermekaran tanpa ragu, dan burung-burung terbang rendah, seolah menikmati waktu yang tersisa. ...