Postingan

Senja dalam Parasnya

 Senja dalam Parasnya  Pintu ruangan itu terbuka perlahan, menimbulkan bunyi lirih yang memantul di dinding-dinding tinggi. Cahaya lampu jatuh lembut di setiap sudut, menerangi puluhan lukisan yang tergantung rapi—warna-warna yang saling berbicara dalam diam.    Aku melangkah masuk.    Udara di dalamnya berbeda. Lebih tenang. Lebih… penuh.    Langkahku menyusuri ruangan, melewati kanvas demi kanvas yang tak lagi asing. Setiap goresan, setiap warna, setiap bayangan—semuanya pernah lahir dari tanganku sendiri. Namun anehnya, melihatnya kembali sekarang terasa seperti membaca ulang bagian-bagian hidup yang pernah kutinggalkan.   Jemari tanganku berhenti di tepi sebuah bingkai.     Senja .   Langitnya hangat, jingga yang perlahan larut ke ungu, seperti hari yang enggan benar-benar selesai. Rumput liar bergoyang pelan, bunga-bunga kecil bermekaran tanpa ragu, dan burung-burung terbang rendah, seolah menikmati waktu yang tersisa. ...

Yang Tetap Berdiri

Dulu kupikir kuat berarti membisu, menyimpan luka agar terlihat utuh selalu. Aku biarkan hari runtuh di dadaku, asal esok wajahku tetap seperti dulu. Di malam sunyi aku belajar pelan, bahwa sakit pun ingin didengarkan. Keberanian lahir dari hati yang rawan, yang tetap berdetak meski hampir padam. Ada hari rumah terasa begitu jauh, senyum hanya topeng yang rapuh. Namun dari sepi aku belajar bertumbuh, menyusun diriku dari bagian yang runtuh. Kini kupahami arti benar-benar menang: tetap pulang meski sempat hilang. Berdiri lagi dari gelap yang panjang, dan menemukan terang di akhir perjalanan.

Atma — Cerpen

Ada masa di hidupku ketika aku percaya, bahwa arti kuat adalah tak pernah menangis. Bahwa untuk disebut hebat, aku harus selalu berdiri tegak, bahkan ketika dunia di sekitarku runtuh pelan-pelan. Tapi malam itu, di antara sunyi yang menggantung di langit dojo, aku belajar hal lain: kadang, perjuangan bukan tentang seberapa keras aku memukul, melainkan seberapa dalam aku memahami luka yang tak terlihat. Dari sanalah semuanya bermula. Dari sebuah tatami yang dingin, napas yang terengah, dan mimpi kecil yang terus kupeluk erat di usia lima tahun. Namaku Michelle. Sejak kecil, aku selalu percaya bahwa setiap orang punya cara sendiri untuk berjuang. Ada yang menulis, ada yang menari, ada yang berbicara lantang di depan banyak orang. Aku? Aku memilih diam dan memukul udara. Bukan karena aku marah pada dunia, tapi karena hanya lewat gerakan itu aku bisa merasa tenang. Karate datang padaku saat umur tujuh tahun — bukan sebagai ambisi, melainkan pelarian kecil dari rasa takut. Aku masih ingat a...

Untukmu — Monolog

Aku senang kau memilihku. Di dunia yang penuh dengan pilihan, kau tetap mengulurkan tanganmu padaku. Ada rasa syukur yang tidak bisa kuterjemahkan dengan kata-kata, hanya bisa kurasakan setiap kali melihatmu tersenyum. Aku senang dengan hari-hariku yang dipenuhi oleh canda tawamu—suara yang mampu menenangkan badai di kepalaku, yang mampu membuatku lupa bahwa dunia kadang kejam. Dan tatapan khasmu… ah, tatapan itu. Tatapan yang selalu tertuju tepat ke mataku, seolah ingin berkata, “Aku di sini, untukmu.” Tatapan itu bukan hanya melihatku, tapi benar-benar menemukan aku. Bersamamu, aku belajar bahwa kebahagiaan ternyata sederhana. Ia tidak selalu datang dari hal-hal besar atau momen luar biasa, tapi dari detik-detik kecil yang kita bagi. Dari obrolan tengah malam yang tak punya ujung, dari genggaman tangan saat kita berjalan tanpa arah, dari caramu menyebut namaku dengan nada yang hanya kamu punya. Aku jatuh cinta pada hal-hal sederhana tentangmu—cara kamu tertawa saat menahan malu, cara...

Rahasia Kecil — Cerpen

Namanya muncul dari cerita orang. Lalu, diam-diam, dia hidup di pikiranku sendiri. Setiap pagi, aku mencari alasan untuk lewat jalur yang sama. Setiap malam, aku membuka profilnya, mencari satu postingan yang bisa kubaca ulang seperti puisi. Dia tak tahu— bahwa seseorang sedang jatuh hati kepadanya dengan cara paling lembut: dalam diam, dengan jarak. Aku tak pernah mengetuk ruang obrolannya. Terlalu takut kalau pintu itu hanya akan dibuka untuk ditutup kembali. Tapi aku ada. Menjadi “penonton senyap” yang ikut bahagia saat dia terlihat bahagia, meski tanpa tahu siapa yang tersenyum bersamanya. Mungkin dia tak akan pernah tahu. Mungkin ini hanya akan jadi cerita yang kusimpan sendiri— tentang rasa yang tumbuh perlahan, dan tak pernah mekar di hadapannya. Tapi kalau suatu hari dia membaca puisi tentang " kamu yang tak tahu aku menyukaimu ", semoga ia merasa sedikit hangat, meski tak tahu itu tentang dia. Aku tahu namanya dari kakakku. Bukan karena dia sering disebut—justru jara...