Senja dalam Parasnya

 Senja dalam Parasnya


 Pintu ruangan itu terbuka perlahan, menimbulkan bunyi lirih yang memantul di dinding-dinding tinggi. Cahaya lampu jatuh lembut di setiap sudut, menerangi puluhan lukisan yang tergantung rapi—warna-warna yang saling berbicara dalam diam.

   Aku melangkah masuk.

   Udara di dalamnya berbeda. Lebih tenang. Lebih… penuh.

   Langkahku menyusuri ruangan, melewati kanvas demi kanvas yang tak lagi asing. Setiap goresan, setiap warna, setiap bayangan—semuanya pernah lahir dari tanganku sendiri. Namun anehnya, melihatnya kembali sekarang terasa seperti membaca ulang bagian-bagian hidup yang pernah kutinggalkan.

  Jemari tanganku berhenti di tepi sebuah bingkai.

    Senja.

  Langitnya hangat, jingga yang perlahan larut ke ungu, seperti hari yang enggan benar-benar selesai. Rumput liar bergoyang pelan, bunga-bunga kecil bermekaran tanpa ragu, dan burung-burung terbang rendah, seolah menikmati waktu yang tersisa.

    Aku mengingat lukisan ini.

    Bukan karena warnanya.

    Tapi karena perasaan saat melukisnya.

 Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat sedikit.

    Hari itu juga cerah.

    Sama seperti warna langit di lukisan ini.

  Aku bisa mengingatnya dengan jelas—lorong sekolah yang ramai, suara langkah yang saling beradu, dan satu suara yang selalu terdengar lebih jelas dari yang lain.

  “Kamu kalau jalan bisa nggak sih pelan dikit?”

    Aku menoleh, sedikit kesal.

  Ia berdiri di belakangku, napasnya sedikit terengah, tapi wajahnya tetap santai seperti biasa. Kemeja seragamnya tidak pernah benar-benar rapi—lengan yang digulung asal, dasi yang sedikit miring, dan rambut yang selalu terlihat seperti baru saja diacak angin.

   “Kamu yang kelamaan,” balasku singkat.

 Ia terkekeh, menyamakan langkah di sampingku. “Atau kamu yang sengaja ngebut biar aku ngejar?”

  Aku memutar mata. “Nggak semua hal tentang kamu.”

  “Yakin?” tanyanya, menoleh dengan senyum tipis yang menyebalkan.

  Aku tidak menjawab. Tapi tanpa sadar, langkahku melambat sedikit.

 Hari-hari setelah itu berjalan seperti kebiasaan yang terbentuk tanpa rencana. Ia selalu muncul—di bangku sebelah saat kerja kelompok, di kantin saat aku belum sempat duduk, atau di lorong sekolah dengan alasan yang entah benar atau tidak.

   “Pulpen kamu mana?” tanyanya suatu hari.

   Aku langsung melihat ke meja. “Tadi di sini.”

  Ia mengangkat sesuatu di tangannya—pulpenku.

    “Kamu nyari ini?” katanya santai.

    “Kamu nyembunyiin lagi?” aku mendesah.

   Ia hanya tersenyum, meletakkannya kembali di mejaku. “Biar kamu nyari aku.”

  “Kamu nggak lucu.”

  “Tapi kamu nyari, kan?”

  Aku ingin menyangkal.

  Tapi tidak bisa.

  Dan itu yang paling menyebalkan.

    Hari-hari itu dipenuhi hal-hal kecil yang tak pernah terasa penting saat terjadi—tapi justru itu yang paling kuingat sekarang. Cara ia memanggil namaku tanpa alasan, cara ia duduk terlalu dekat saat kami belajar, atau cara ia selalu menunggu tanpa pernah bilang kalau ia sedang menunggu.

  Sampai suatu sore, saat kelas hampir kosong dan cahaya matahari masuk dari jendela dengan warna keemasan yang lembut, ia menarik kursinya mendekat.

    “Besok kamu kosong?” tanyanya.

    Aku masih menulis. “Kenapa?”

   “Nonton.”

   Aku berhenti sebentar. “Berdua?”

 Ia tidak langsung menjawab. Hanya menatapku sebentar, lalu mengangguk pelan.

   “Kalau kamu nggak nolak.”

    Aku menatapnya.

    Ia tidak bercanda kali ini.

  Tidak ada senyum iseng. Tidak ada nada menggoda.

    Hanya tatapan yang… tenang.

  Entah kenapa, jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

  Beberapa hari setelah itu, semuanya kembali terlihat seperti biasa.

 Ia tetap menggangguku di kelas, tetap menyembunyikan barang-barangku sesuka hati, tetap tertawa seolah tidak pernah ada momen di bioskop itu. Namun ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang tidak diucapkan, tapi terasa.

 Aku mulai menyadari cara ia menatapku lebih lama dari biasanya.

  Cara ia diam sejenak sebelum menjawab.

  Cara ia seolah menunggu… sesuatu.

Sampai akhirnya, di suatu siang yang hangat, saat bel pulang sekolah baru saja berbunyi dan lorong mulai lengang, ia memanggilku.

  “Tunggu.”

   Langkahku terhenti.

Ia berdiri beberapa langkah di belakangku, tangannya dimasukkan ke saku, tapi bahunya tampak sedikit tegang—tidak seperti biasanya.

“Ada apa?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab. Hanya menatapku sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela yang memantulkan cahaya sore.

  “Aku mau ngomong sesuatu,” katanya pelan.

   Aku menunggu.

Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya.

   “Aku suka kamu.”

   Kalimat itu jatuh begitu saja.

   Tidak dramatis. Tidak berlebihan.

 
Tapi cukup untuk membuat semuanya terasa hening.

Aku menatapnya, mencoba menahan senyum yang hampir muncul. “Kalau aku butuh waktu buat jawab gimana?” tanyaku, nada suaraku ringan, setengah menggoda.

Ia akhirnya menatapku lagi.

Kali ini lebih tenang.

Lebih pasti.

“Kalau harus diulang seribu tahun pun,” ucapnya pelan, “aku tetap milih kamu.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

Aku tidak menjawab dengan kata.

Aku hanya tersenyum.

Dan entah bagaimana, ia mengerti.

Sejak hari itu, tidak ada pernyataan besar.

Tidak ada perubahan yang mencolok.

Tapi semuanya terasa berbeda.

Kami mulai berjalan berdampingan tanpa jarak yang canggung. Ia tidak lagi sekadar muncul—ia menetap. Di bangku sebelah, di ujung percakapan, di pesan-pesan singkat yang tak pernah benar-benar penting, tapi selalu kutunggu.

“Udah makan?” pesannya suatu siang.

“Udah. Kamu?”

“Belum. Nunggu kamu.”

Aku menggeleng sendiri sambil tersenyum.

Hari-hari itu dipenuhi hal-hal kecil yang tak pernah terasa cukup. Ia masih sama—jahil, iseng, dan sering mengejekku tanpa alasan. Tapi di sela semua itu, ada perhatian yang tidak pernah hilang.

Ia akan menggeser kursinya sedikit lebih dekat saat aku terlihat lelah.

Ia akan diam lebih lama saat aku sedang banyak pikiran.

Dan tanpa perlu diminta, ia selalu ada.

Aku tidak pernah benar-benar menyadari kapan semuanya berubah menjadi penting.

Yang kutahu, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Terlalu terbiasa.

Hingga suatu hari—

“Besok kamu kosong?” tanyanya.

Aku menoleh. “Kenapa?”

Ia tersenyum kecil. “Aku mau ambil waktu kamu seharian.”

“Buat apa?”

Ia tidak langsung menjawab.

Hanya menatapku sebentar, lalu berkata singkat—

“Ulang tahun kamu, kan?”

Dan entah kenapa, cara ia mengatakannya membuat sesuatu di dalam dadaku terasa hangat.

Aku tidak tahu apa yang ia rencanakan.

Aku hanya tahu—

aku ingin ikut ke mana pun ia mengajakku.
Keesokan harinya, langit Jakarta terbuka lebar tanpa awan.

Cahaya matahari jatuh terang di antara gedung-gedung tinggi, memantul di kaca-kaca jendela seperti serpihan cahaya yang bertebaran. Udara hangat, ringan, seolah hari itu sengaja dibuat lebih indah dari biasanya.

Ia sudah menungguku lebih dulu.

Kemeja putihnya rapi hari itu.

Lebih rapi dari biasanya.

“Kamu niat banget,” kataku sambil menahan senyum.

Ia hanya menatapku sekilas. “Kamu ulang tahun.”

Seolah itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

Hari itu kami berjalan tanpa arah. Dari trotoar yang ramai, ke taman kecil yang dipenuhi bayangan pohon, lalu ke toko buku yang dingin dan sunyi. Kami tertawa pada hal-hal kecil, saling mengejek tanpa benar-benar bermaksud menyakiti.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Langit perlahan berubah warna—dari biru terang menjadi jingga lembut. Cahaya sore menyelimuti jalanan, membuat semuanya terlihat lebih hangat.

Namun langkahku mulai melambat.

“Aku capek…” kataku pelan.

Ia langsung berhenti. Menatapku sebentar, lalu menunjuk ke bangku di pinggir jalan.

“Duduk dulu.”

Aku menurut.

Bangku besi itu menghadap jalan besar. Kendaraan berlalu-lalang, lampu lalu lintas berganti warna dengan ritme yang teratur. Angin sore berhembus pelan, membawa suara kota yang tak pernah benar-benar diam.

Ia berdiri di depanku beberapa detik.

Lalu menunjuk ke seberang jalan.

“Tunggu di sini, ya.”

“Apa lagi?” tanyaku.

Ia tersenyum tipis. “Rahasia.”

Aku menghela napas kecil, tapi tetap mengangguk.

Ia menyeberang saat lampu berubah merah.

Langkahnya santai.

Seperti biasa.

Aku memperhatikannya sampai ia masuk ke sebuah toko kecil di seberang.

Beberapa menit berlalu.

Aku mengayunkan kaki pelan, menatap kendaraan yang berhenti di garis putih jalan. Cahaya sore jatuh di aspal, membuatnya berkilau seperti permukaan air.

Lalu—

pintu toko itu terbuka.

Ia keluar.

Tangannya penuh.

Buket bunga.

Mawar merah dan pink.

Daisy kecil.

Tulip pink.

Dan peony.

Semuanya dibungkus kertas bening yang berkilau diterpa cahaya sore.

Di tangan satunya, minuman dan camilan.

Aku tersenyum tanpa sadar.

Ia melihat ke arahku.

Dan tersenyum.

Aku berdiri dari bangku, merapikan rambutku sedikit.

Tanganku terangkat, melambai kecil.

Lampu masih merah.

Ia mulai berjalan menyeberang.

Langkahnya sedikit cepat, mungkin karena tangannya penuh. Ia mengangkat sedikit buket bunga itu, seolah ingin menunjukkannya padaku.

Aku tertawa kecil.

Dunia terasa ringan.

Cahaya sore jatuh tepat di antara kami.

Ia hampir sampai di tengah jalan.

Lalu—

suara mesin meraung.

Keras.

Mendadak.

Sebuah mobil melaju dari sisi jalan—terlalu cepat, terlalu tiba-tiba.

Semuanya seperti melambat.

Aku melihatnya menoleh.

Buket bunga itu bergeser dari tangannya.

Kelopak mawar mulai terlepas.

Lalu—

benturan itu.

Bunga-bunga berhamburan di udara.

Merah. Pink. Putih kecil.

Seperti hujan yang jatuh tanpa arah.

Minuman yang dibawanya terpental, cairannya menyebar di aspal.

Dan ia—

terjatuh.

Aku berlari.

Tanpa tahu bagaimana kakiku bergerak secepat itu.

“Bangun…”

Suaraku pecah saat aku berlutut di sampingnya.

Kemeja putih itu—

tidak lagi putih.

Tanganku mulai bergetar.

Aku berjongkok lebih dekat, lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Tubuhnya terasa berat… dan terlalu diam.

“Bangun…” suaraku hancur.

Jemari tanganku menyentuh pipinya—yang tadi hangat, yang tadi hidup—kini perlahan kehilangan rasa yang kukenal.

Aku mengelusnya berulang kali.

Seolah itu bisa mengembalikan semuanya.

Air mataku jatuh.

Deras.

Tak tertahan.

Membasahi pipinya, tanganku, dan kemeja yang tak lagi berwarna sama.

“Ngga… sayang… ngga…,” suaraku bergetar, patah.

Aku menggenggam wajahnya dengan kedua tangan.

“Lihat aku dulu… sayang… tolong…”

Isak tangisku pecah.

Dadaku naik turun tak teratur, napasku tersendat, seolah udara pun tak lagi cukup.

Matanya masih terbuka.

Sedikit.

Mencariku.

Tangannya yang lemah bergerak pelan, menyentuh lenganku.

Aku langsung menggenggamnya erat.

“Aku di sini… aku di sini…”

Ia menatapku lama.

Seolah menghafal.

“Selamat…” suaranya nyaris tak terdengar, “…ulang tahun…”

Air mataku jatuh semakin deras.

“Aku nggak butuh… apa-apa… aku butuh kamu…” suaraku hampir hilang.

Matanya bergeser sedikit.

Ke arah bunga-bunga yang berserakan.

“Aku…” napasnya terputus, “…mau kasih…”

Aku menggeleng cepat.

“Ngga… jangan… jangan sekarang…”

Ia kembali menatapku.

Lama.

“Kalau…” suaranya sangat pelan, “…diulang…”

Aku mendekat.

“…seribu tahun…”

Tangannya mulai melemah dalam genggamanku.

“…aku tetap…”

Suaranya hilang.

Bibirnya masih bergerak.

Namun tak ada lagi suara.

Genggamannya perlahan terlepas.

Aku membeku.

“Jangan…” bisikku.

Suaraku hampir tidak ada.

Di sekelilingku, orang-orang mulai berteriak, langkah kaki berlari, suara gaduh memenuhi jalan—namun semuanya terasa jauh.

Yang tersisa hanya—

dia dalam pelukanku,

bunga-bunga yang berserakan di aspal,

dan kemeja putih… yang tak akan pernah kembali seperti semula.


   Suara di sekelilingku perlahan kembali.

   Namun tidak dengan dirinya.

  Tanganku masih menggenggam jemarinya—yang kini diam, terlalu diam untuk sesuatu yang beberapa saat lalu masih membalas sentuhanku. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di sana. Detik terasa memanjang, seperti waktu lupa bagaimana cara berjalan.

   Seseorang menarik bahuku pelan.

   Seseorang berbicara.

   Seseorang mencoba melepaskan tanganku darinya.

   Tapi aku tetap di sana.

   Memeluknya.

Seolah dengan begitu, aku bisa menahannya agar tidak benar-benar pergi.

Namun pada akhirnya, dunia tidak pernah menunggu siapa pun.


Aku tidak pernah benar-benar mengingat bagaimana malam itu berakhir.

Yang tersisa hanya potongan-potongan—lampu yang terlalu terang, suara yang saling bertabrakan, dan ruang kosong yang perlahan tumbuh di dalam dadaku.

Hari-hari setelahnya berjalan tanpa bentuk.

Pagi datang.

Malam pergi.

Tapi semuanya terasa sama.

Sepi.

Aku kembali memegang kuas.

Bukan karena ingin melukis.

Tapi karena hanya itu yang tersisa.

Cat pertama yang kutorehkan di kanvas terasa kaku. Tanganku sempat berhenti di tengah garis, seolah aku lupa bagaimana caranya menciptakan sesuatu yang hidup.

Namun perlahan, warna-warna itu kembali.

Jingga.

Merah.

Sedikit ungu.

Aku melukis senja.

Tanpa sadar.

Sama seperti hari itu.

Setiap goresan terasa seperti mengulang sesuatu yang tak sempat selesai. Setiap warna seolah membawa kembali potongan-potongan dirinya—senyumnya, suaranya, cara ia memanggilku, cara ia berjalan ke arahku dengan buket bunga di tangannya.

Aku tidak melukis pemandangan.

Aku melukis kenangan.

Dan di antara semua lukisan yang pernah kubuat, yang satu itu… selalu terasa paling hidup.


Kini, aku berdiri lagi di ruangan ini.

Di hadapan lukisan itu.

Senja yang sama.

Rumput liar yang sama.

Bunga-bunga kecil yang tetap bermekaran, seolah tidak pernah tahu bahwa waktu bisa berhenti begitu saja.

Jemari tanganku menyentuh bingkainya pelan.

Aku menatapnya lama.

Sangat lama.

Tanpa sadar, napasku sedikit bergetar.

Namun kali ini—

aku tidak menangis.

Karena entah sejak kapan, aku mulai mengerti—

tidak semua yang hilang benar-benar pergi.

Beberapa hal… hanya berpindah tempat.

Ia tidak lagi berjalan di sampingku.

Tidak lagi memanggil namaku dari kejauhan.

Tidak lagi mengejekku saat aku menangis karena film yang terlalu sederhana.

Namun ia tetap ada.

Di warna yang kupilih.

Di cerita yang kutulis.

Di setiap senja yang tak pernah benar-benar sama.

Aku menarik napas pelan.

Lalu tersenyum—kecil, tapi cukup.

“Selamat ulang tahun,” bisikku lirih, hampir tak terdengar.

Entah untuk siapa.

Mungkin untuk diriku yang bertahan.

Atau untuknya—

yang tetap memilihku,
bahkan ketika waktu tidak lagi memberi kesempatan.

Dan di antara puluhan lukisan yang memenuhi ruangan ini,

hanya satu yang benar-benar hidup.

Karena di sanalah ia tinggal.

Tidak lagi sebagai seseorang yang bisa kugenggam—

tapi sebagai sesuatu yang tak akan pernah bisa hilang.

Abadi.

Di dalam warna,

di dalam kenangan,

dan di dalam hatiku yang… masih menyebut namanya dalam diam.

Aku mengalihkan pandangan, pura-pura kembali menulis.

“…yaudah,” jawabku pelan.

Ia tidak langsung bereaksi. Tapi aku bisa melihat sudut bibirnya terangkat sedikit.

Dan sejak saat itu, sesuatu yang kecil mulai berubah.

Tidak ada yang benar-benar berbeda.

Tapi juga… tidak pernah sama lagi.

Dan sejak hari itu, aku belajar bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya.
Ada orang-orang yang hadir hanya sebentar, namun meninggalkan jejak yang menetap sangat lama. Mereka mengajarkan bahwa cinta tidak selalu tentang bersama selamanya, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu mengubah hidup kita hanya dengan kehadirannya.

Aku pernah berpikir bahwa bahagia berarti memiliki.
Namun kini aku mengerti—bahagia juga bisa berarti pernah dipertemukan.

Karena pada akhirnya, waktu mungkin bisa mengambil seseorang dari sisiku,
tetapi tidak akan pernah bisa mengambil semua kenangan, tawa, dan rasa hangat yang pernah ia tinggalkan.

Dan dari semua luka yang tersisa, aku belajar satu hal sederhana:

hargailah setiap orang yang kita cintai selagi masih ada waktu.
Sebab kita tidak pernah tahu, pelukan mana yang akan menjadi yang terakhir.

Postingan populer dari blog ini

Atma — Cerpen

Untukmu — Monolog